|
What's New?
Mukjizat: Al-Quran dan Embriologi
Kafemuslimah.com Riset dan penelitian ilmiah kontemporer
membuktikan bahwa Al-Quran banyak memiliki tanda-tanda ilmiah (sains). Hal ini diperkuat dengan banyaknya lahir buku-buku yang membahas korelasi antara Al-Quran
dan sains modern. Meskipun Al-Quran (sejatinya) bukanlah buku sains, namun jika ia sarat dengan sinyal-sinyal sains; hal ini
tidak dapat dipungkiri keberadaannya.
Hal ini disinyalir oleh Dr. Dzakir Abdul Karim (2003) bahwa Al-Quran bukanlah buku sains,
tetapi ia adalah buku yang memuat tanda-tanda (sains) saja. Di dalamnya terdapat 6.000 ayat lebih dan sekitar 100 ayat lebih
berbicara masalah sains tersebut.
Dr. Ahmad Syauqi al-Fanjary (2000) menyatakan bahwa masalah
reproduksi (al-tanâsul) dan pertumbuhan embrio (nasy’ah al-janîn) merupakan salah satu rahasia
ilmiah yang sangat kompleks. Ia begitu rahasia bagi manusia hingga ditemukannya mikroskopyang canggih, seperti mikroskop elektron
yang mampu membesarkan benda hingga mencapai 200,000 kali. Hal ini tidak ada sebelumnya, kecuali pada abad ke-20.
Hal ini juga disinyalir oleh Dr. Zakaria HamĂ®miy di dalam bukunya al-‘I`jâz al-`Ilmiy fĂ®
al-Qur’ân al-KarĂ®m bahwa hingga mendekati abad ke-19 para ahli embrio (ulamâ` al-‘ajinnah)
terbagi dua kubu; kubu pertama kelompok yang menyatakan bahwa manusia telah menjadi makhluk (tercipta) dengan sempurna
di dalam sperma dalam bentuk yang hina dan kelompok kedua adalah kelompok yang menyatakan bahwa manusia telah tercipta
dengan sempurna di dalam sel telur (ovum) seorang wanita. Beliau kemudian menjelaskan bahwa di saat para ilmuwan itu belum
mampu untuk mengetahui kebenaran tersebut, kita melihat bahwa Al-Quran sejak empat belas abad silam telah memastikan hal itu…(Dr.
Zakaria Hamîmiy, 2002: 92).
Hal tidak diragukan lagi merupakan salah satu I’jaz
ilmi dalam Islam yang dikemas dalam Al-Quran sebagai wahyu pamungkas bagi manusia.
Manusia
diciptakan dari segumpal darah Bacalah dengan (menyebut) nama
Tuhamu Yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah(QS. Al-`Alaq: 1-2) Menurut
Dr. Zagloul Najjar, surat tersebut dinamakan dengan surat "Al-`Alaq” karena di dalamnya terdapat fase penciptaan manusia. Dimana bentuk
dan cara makan embrio itu menyerupai lintah (dûdah al-`alaq) (Harian Ahram, 11/10/2004).
Adalah Dr. Keith L. Moore, seorang ilmuwan Barat kontemporer pertama yang menulis tentang kelebihan Al-Quran
yang lebih maju dalam embriologi. Beliau menulis sebuah buku yang berjudul The Developing Human. Buku tersebut telah
diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa dan diajarkan di berbagai fakultas kedokteran di Amerika, Jepang, Jerman dan seluruh
negara-negara di dunia sebagai referensi embriologi.
Dr. Ketih L. Moore sendiri belum memiliki
informasi bahwa awal dari jadinya embrio berbentuk seperti segumpal darah (`alaqah). Untuk menguji kebenaran tersebut,
beliau melakukan riset fase awal embrio dalam sebuah mikroskop di laboratorium pribadinya. Beliau melakukan komparasi catatannya
dengan bentuk segumpal darah tersebut. Setelah itu beliau sangat tercengang ketika melihat kesamaan bentuk antara keduanya.
Akhirnya, beliau memperoleh berbagai informasi (pengetahuan) yang belum diketahuinya dari Al-Quran.
Beliau
telah menjawab sekitar 80 pertanyaan yang berkenaan tentang informasi khusus yang berkaitan dengan embriologi yang terdapat
di dalam Al-Quran Hadits. Beliau memberi catatan bahwa informasi-informasi yang terdapat di dalam Al-Quran dan Hadits sesuai
dengan penemuan embriologi terbaru. Beliau berkata: “Seandainya pertanyaan-pertanyaan tersebut dilemparkan
kepada saya tiga puluh tahun yang lalu, saya tidak akan mempu menjawab setengahnyapun, karena minimnya informasi ilmiah tentang
itu”.
Pada tahun 1981, pada sebuah Muktamar Kedokteran Ke-7 di Damam, Saudi
Arabia, beliau berkata: “Merupakan hal yang menyenangkan bagi saya bisa membantu menjelaskan beberapa riwayat
Al-Quran seputar pertumbuhan embrio. Tampak jelas bagi saya, bahwa riwayat-riwayat tersebut telah diturunkan kepada Muhammad
saw dari Allah. Karena –kira-kira—seluruh riwayat tersebut belum terungkap kecuali setelah beberapa
abad berikutnya. Hal ini menguatkan bahwa Muhammad saw adalah Rasulullah”. Statemen tersebut beliau sampaikan dalam sebuah video cassette dengan judul This is the truth (Dr.
Dzakir Abdul Karim, 2003: 44).
Dalam bukunya di atas, Dr. Keith pertama kali menjelaskan bahwa seorang wanita memiliki
sperma seperti sperma laki-laki. Embrio tersebut terdiri dari penyatuan kedua sperma tersebut –laki-laki dan
perempuan—yang disebut dengan ‘air sperma yang bercampur’ (masyz, zygot) atau
benih (al-badzrah). Benih yang sempurna tersebut bersemayam di dalam rahim selama beberapa minggu. Kemudian
ia melekat kepada dinding rahim dan menjadi seperti segumpal darah yang mirip dengan lintah pengisap darah (blood suckerr).
Lalu segumpal darah tersebut beralih kepada istilah yang disebut di dalam Al-Quran dengan mudhghah, yakni sepotong
daging yang dikunyah. Ini merupakan sebuah deskripsi mendalam tentang sebuah fase yang disebut dengan somites.
Beliau juga menjelaskan setiap fase perkembangan embrio dan masa yang dibutuhkannya sebagaimana yang disebutkan
di dalam Al-Quran dan Hadits Nabi saw. Dimana setiap fase membutuhkan empat puluh hari hingga sempurna bentuk ciptaannya dalam
waktu 120 hari. Hal ini sesuai dengan sains modern yang ada (Dr. Ahmad Syauqi al-Fanjari, 2000: 90).
Analisa Ilmiah Embrio Manusia Menurut Dr. Zagloul Najjar (Harian Ahram,
11/10/2004), lintah merupakan jenis cacing Annelida, atau yang dikenal dengan Class Hirudinia. Biasanya, ia
hidup di dalam air yang tawar. Meskipun ada juga yang hidup di air asin bahkan di daerah yang kering di dalam hutan tropis
dan sub-tropis yang segar.
Cacing Annelida hidup bercampur (bergerombol) dengan kelompok
hewan vertebrata dengan cara melekatkan dirinya kepada tubuh hewan tersebut. Caranya dengan melakukan dua gigitan penyedot
yang kuat yang terdapat di setiap ujung tubuhnya sambil menghisap darahnya. Atau, ia hidup seperti hewan pemangsa (buas) atau
menempel pada hewan invertebrata dari jenis siput-siputan (kerang-kerangan). Allah swt telah mempersenjatai lintah pengisap
darah tersebut dengan dengan berbagai bahan kimia untuk mencegah darah agar tidak beku supaya bisa dihisap sebatas kebutuhannya.
Bahan itulah yang
dikenal dengan hirudin. Dari sinilah diambil nama class hirudinia.
Sejak dulu hingga sekarang, lintah
ini digunakan untuk mengobati berbagai penyakit, yakni untuk menghisap darah yang berlebih untuk kebutuhan pasien. Dan hal
yang menakjubkan adalah para peneliti embrio manusia pada abad ke-20; pada dua minggu awal menemukan kesempurnaan melekatnya
kantong cairan panggul pada dinding rahim melalui plasenta (ari-ari) awal yang pada fase berikutnya akan berubah menjadi tali
pusar (al-habl a-surriy). Dengan adanya kerapian proses pertumbuhan, banyaknya sel dan dimulainya susunan berbagai
organ, terutama organ syaraf yang tampak dengan adanya tali (tulang) belakang, organ sirkulasi (peredaran) awal yang tercermin
dengan adanya saluran hati dan sepasang aorta serta pembuluh darah.
Fase-Fase Embrio
(Janin) Dan pada awal minggu ketiga, embrio itu berubah bentuknya menjadi lonjong (pada
hari ke-21 sampai hari ke-25) seperti lintah (leech) dari segi bentuk dan cara melekatnya. Karena embrio tersebut melekat
pada dinding rahim dan memperoleh makanan dari darah sang ibu, seperti lintah yang menghisap darah indung tempat dia menempel.
Dan deskripsi Al-Quran atas fase embrio manusia tersebut disebut sebagai (khlaqal insâna min `alaq) pada satu waktu
yang belum ada satu media pun untuk mengungkap, membesarkan dan memotret (menggambar) fase pertumbuhan yang besarnya antara
(7 mm), (3,5 mm) merupakan (benar-benar) sebuah mukjizat. Fase inilah yang disebut dengan fase pelekatan dan implantasi (the
attachment and implantantion). Pada fase tersebut, blastula menjadi dekat dari selaput lendir (ghisyâ’
mukhâthiy) yang melindungi rahim hingga blastula tersebut dapat melekat pada bagian atasnya pada enam hingga tujuh hari
dari masa pembuahan. Kemudian sel-sel luar dari blastula tersebut menggigit dinding rahim dan terimplantasi di dalamnya lewat
perantaraan beberapa beludru kecil yang ada di dalam lautan darah. Dengan demikian, hubungan antara embrio dengan darah sang
ibu terjalin secara langsung. Sehingga segumpal darah tersebut mendapatkan makan dari darah dan susu rahim yang disaring oleh
ribuan kelenjar rahim. Dan sekitar hari ke-12 atau ke-13 dari masa pembuahan ditutuplah celah
(lubang) tempat masuknya blastula pada selaput diding rahim melalui sel-sel serabut (fibroma) dan darah, kemudian ditutup
oleh sel-sel yang dibentuk untuk melapisi selaput lendir rahim. Setelah fase pertama, embrio melekat pada
dinding rahim dan terimplantasi di dalamnya. Kemudian mulai terbentuklah selaput placenta (chorion) dalam membentuk sel-sel
luar untuk balstula, sebagaimana terbentuknya penyambung antara embrio dengan selaput placenta. Di dalamnya tumbuh wadah-wadah
darah placenta untuk makanan embrio untuk menguatkan pelekatan janin dengan dinding rahim.
Fase
segumpal darah (`alqah) berlanjut terus dari hari ke-15 sampi hari ke-24 atau ke-25 setelah sempurnanya proses pembuahan.
Meskipun begitu kecil, namun para ahli (professor) embriologi mengamati proses membanyaknya sel-sel yang begitu cepat dan
aktivitasnya dalam membentuk organ-organ tubuh. Mulailah tampak pertumbuhan syaraf dalam pada ujung tubuh bagian belakang
embrio, terbentuk (sedikit-demi sedikit ) kepingan-kepingan benih, menjelasnya lipatan kepala; sebagai persiapan perpindahan
fase ini (`alaqah kepada fase berikutnya, yaitu mudhgah (mulbry stage).
Mulbry
stage adalah kata dari bahasa Latin yang artinya embrio (janin) yang berwarna murberi (merah tua keungu-unguan). Karena
bentuknya pada fase ini menyerupai biji murberi, karena terdapat berbagai penampakan-penampakan dan lubang-lubang (rongga-rongga)
di atasnya.
Realitanya, ungkapan Al-Quran lebih mendalam, karena embrio menyerupai sepotong
daging yang dikunyah dengan gigi, sehingga tampaklah tonjolan-tonjolan dan celah (rongga-rongga) dari bekas kunyahan tersebut.
Inilah deskripsi yang dekat dengan kebenaran. Lubang-lubang itulah yang nantinya akan menjadi organ-organ tubuh dan anggota-anggotanya.
Di dalam Al-Quran disebutkan bahwa embro terbagi dua; pertama, sempurna (mukhallaqah) dan kedua tidak
sempurna (ghair mukhallaqah). Penafsiran dari ayat tersebut adalah: Secara ilmiah, embrio dalam fase perkembangannya
seperti tidak sempurna dalam susunan organ tubuhnya. Sebagian organ (seperti kepala) tampak lebih besar dari tubuhnya dibandingkan dengan organ tubuh
yang lain. Lebih penting dari itu, sebagian anggota tubuh embrio tercipta lebih dulu dari yang lainnya, bahkan bagian lain
belum terbentuk. Contoh, kepala. Ia terbentuk sebelum sebelum bagian tubuh ujung belum terbentuk, seperti kedua lengan dan
kaki. Setelah itu, secara perlahan mulai tampaklah lengan dan kaki tersebut. Tidak diragukan lagi, ini adalah I’jâz
`ilmiy yang terdapat di dalam Al-Quran. Karena menurut Dr. Ahmad Syauqiy al-Fanjary, kata `alaqah tidak digunakan kecuali
di dalam Al-Quran.
Tiga kegelapan Di dalam Al-Quran surat
Al-Zumar ayat 6 Allah menerangkan bahwa janin manusia di dalam perut ibunya berada dalam tiga kegelapan (zhulumât tsalâts);
“Dia (Allah) menjadikan kamu dalam perut ibumum kejadian demi kejadian dalam tiga kegelapan”.
Para penafsir (mufassirûn) periode awal menafsirkan
kata zhulumât tsalâts (tiga kegelapan) di atas dengan kegelapan rahim, kegelapan kehildupan dan kegelapan alam kubur.
Ini sangat jauh sekali dari ayat Al-Quran yang mulia tersebut, karena yang dimaksud oleh Al-Quran adalah kegelapan yang menyangkut
fase janin di dalam rahim. Dan melalui ilmu anatomi kita mengetahui bahwa maksud dari ayat di atas adalah tiga membran (selaput)
yang menyelimuti janin dalam masa (fase) perkembangannya di dalam rahim. Dan ini menafsirkan nash Quraniy tersebut dan sesuai
dengannya (Dr. Ahmad Syauqiy al-Fanjari (ibid: 107). Menurut Dr. Keith, ketiga kegelapan yang
disebutkan dalam Al-Quran itu adalah; pertama, dinding depan perut ibu; kedua, dinding rahim; dan ketiga, selaput yang melindungi
janin (membran amnion), yang disebut dengan the amnionic-chronic membrance (Dr. Dzakir `Abdul Karim, op. cit: 48).
Pendengaran
dan penglihatan Dalam Al-Quran kata al-sam`u (pendengaran, alat pendengaran/telinga)
disebutkan lebih dulu daripada al-bashar (penglihatan/mata). Kenapa? Ini merupakan salah satu bentuk I’jâz
Quraniy. “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari setetes air
mani yang Kami hendap mengujinya (dengan perintah dan larangan), karena itu Kami jadikan dia mendengar dan melihat”
(QS. Al-Insân: 2), ...dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati...”(QS. Al-Sajadah:
9) dan firman Allah; “Dan Dia telah menciptakan bagi kamu sekalian; pendengaran, penglihatan dan hati. Amat
sedikitlah kamu bersyukur” (QS. Al-Mu’minûn: 78).
Al-Quran menyebutkan
kata al-sam`u sebelum kata al-bashardi dalam fase perkembangan janin. Hal ini memiliki hikmah medis yang sudah dikenal. Organ pendengaran
janin terbentuk di dalam rahim sebelum terbentuknya organ penglihatan. Berbagai eksperimen (uji coba) pendengaran bahwa janin
terpengaruh oleh suara-suara yang mengganggu dan oleh gemerincing suara jika didekatkan pada perut ibu. Sedangkan organ penglihatan
telah terbukti bahwa janin tidak dapat melihat apa-apa selama dua atau tiga minggu bahkan sampai setelah lahir. Matanya memang
dapat melihat (menoleh) ke kanan dan ke kiri, namun jika didekatkan sesuatu di depan matanya ia tidak dapat mengerdipkan matanya
karena memang dia tidak dapat melihatnya. Sementara itu, bayi menoleh ketika mendengar sesuatu yang berisik (mengusik pendengarannya). Dari penjelasan singkat di atas dapat ditarik sebuah konklusi bahwa Al-Quran bukan hanya sebagai kitab suci
yang membacanya merupakan ibadah, namun ia juga merupakan sebuah kitab yang banyak mengandung tanda-tanda ilmiah. Hal ini
semakin membuktikan bahwa Al-Quran itu benar-benar wahyu dari Allah, bukan buatan Muhammad saw. Fakta ini telah banyak dibuktikan
oleh para ilmuwan Barat, seperti Maurice Bucaille, Moris Bokay dan yang lainnya. Dan akhirnya mereka mengakui keagungan agama
Islam lalu memeluknya. (Cairo, 18 Desember 2004).
Kami akan memperlihatkan kepada mereka
tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap penjuru dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Al-Quran
itu adalah benar (QS. Fushshilat: 53)
Alhamdulillahirabbil`âlamîn wasshalâtu wassalâmu
`alâ sayyidil awwalîn wa al-akhirîn. Rabbanâ mâ khalaqta hâdzâ bâthilan subhânaka faqinâ `adzâbannâr! Qosim Nursheha Dzulhadi*
*Mahasiswa Universitas Al-Azhar, Cairo-Mesir, Fakultas
Ushuluddin-Jurusan Tafsir.
|